08/06/2016
To Ramadhan With Love
Kembali kita bertemu dengan hari-hari suci Ramadhan. Di dalamnya pernah turun ayat-ayat suci kepada hamba-Nya yang suci dari Allah Yang Maha Suci. Maka, kita pun sudah menyucikan diri memasuki gerbang Ramadhan. Suci dari aspek ruhiyah, sudah kita sapu kalbu kita dari debu sakit hati, iri, dengki dan dendam. Aspek fikriyah kita pun begitu mengental dengan pemahaman karena telah mengkaji “ilmu puasa” demi mencari kesesuaian pelaksanaan shaum yang senada seperti dilaksanakan oleh Rasul yang mulia.
To Ramadhan With Love, menuju Ramadhan dengan cinta! Inilah tajuk utama yang seharusnya menghias kalbu kita merespon cinta Allah yang begitu besar telah membentangkan Ramadhan kepada kita. Karena kemahabijaksanaan-Nya, Dia memaklumi hamba-Nya yang dhaif, penuh khilaf dan salah, maka Dia wajibkan Ramadhan agar hamba-Nya itu memiliki peluang untuk kembali menyucikan diri.
Begitu urgennya membersihkan “an-nafs”, seperti dinyatakan Allah dalam QS As Syam. Didahului sumpah Allah sebanyak tujuh kali – tidak pernah ada satu surat pun kecuali surat ini di mana Allah bersumpah sebanyak tujuh ayat- yang kemudian mengerucut pada ayat berikutnya tentang betapa pentingnya membersihkan “an-nafs” yang disebutkan-Nya siapa yang melakukannya sebagai “orang yang beruntung”. Ramadhan adalah sarana efektif bagi kita untuk kembali menyucikan diri. Sabda Rasul, “Sungguh menyesal orang yang dikunjungi Ramadhan, tapi tidak diampuni dosa-dosanya.
Terbitnya SK Illahi QS 2:183 adalah wujud cinta-Nya kepada kaum mukminin. Simaklah narasi dalam SK itu yang tertera dalam ayat 183, 184, 185, dan 187 QS Al Baqarah yang mengatur tentang shaum. Manifestasi cinta-Nya itu dilandasi pula dengan kebijaksanaan-Nya. Sebagai Pemilik Hukum, Dia tidak otoriter dalam perintah-Nya tersebut. Diberikan-Nya rukhsoh kepada mereka yang sakit atau sedang dalam perjalanan dibolehkan tidak berpuasa, dan menggantinya di hari lain. Pula, disisipkan di antara ayat-ayat yang mengatur tentang shaum itu, yakni ayat 186 yang sama sekali tidak menyinggung tentang ibadah shaum, namun tentang “the power of doa”, bahwa Allah begitu dekat dan mengabulkan doa hamba-Nya. Tidak ada satu ayat pun dalam Al Qur’an kecuali ayat ini di mana Allah menyebut dirinya dengan “Aku” sebanyak tujuh kali dan demikian pun menyebut hamba-Nya sebanyak itu.
Kita dapat pula melihat wujud cinta Allah dalam sebuah hadist berkualifikasi sahih, Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, Sesungguhnya bau mulut orang berpuasa lebih disukai Allah daripada harum minyak kasturi (HR, Bukhari). Bayangkan, bau mulut, sekali lagi bau mulut kita (yang sedang shaum) lebih dicintai-Nya ketimbang semerbak harum minyak kasturi. Menganalogikan dengan orang tua kepada anaknya sebagai contoh. Karena cinta yang besarlah, kalau bau mulut yang diselaputi air liur seorang anak terasa harum diciumi seorang ibu. Begitu pun dengan ompol-pub bayi yang tak dirasakan baunya oleh orang tua, bahkan ketiaknya yang penuh keringat sepulang sekolah rela disosor oleh orang tuanya, bahkan bisa memicu kebahagiaan orang tua sehabis lerlah bekerja seharian. Itulah karena cinta yang besar. Ya, begitulah, Allah lebih mencintai bau mulut orang yang berpuasa.
Masih ada lagi bukti cinta-Nya bagi shoimin. Kalau dalam ibadah ritual lainnya, janji pahalanya terukur, misalnya shalat berjamaah mendapatkan kelebihan pahala 27 derajat Tapi, ibadah shaum, Allah janjikan pahala tanpa batas, “Karena shaum itu untuk-Ku, maka Akulah yang membalasnya” begitulah wujud cinta-Nya yang begitu besar di bulan Ramadhan yang agung dan suci. Maka, tiada lain kita harus membalas cinta-Nya itu dengan cinta yang besar pula. Ayo, kita masuki Ramadhan dengan cinta. To Ramadhan with love! http://www.rumahdakwahybu.id/khasanah-ilmu/catatan-indra-syamsi/to-ramadhan-with-love/
To Ramadhan With Love Kembali kita bertemu dengan hari-hari suci Ramadhan. Di dalamnya pernah turun ayat-ayat suci kepada hamba-Nya yang suci dari Allah Yang Maha Suci. Maka, kita pun sudah menyucikan diri memasuki gerbang Ramadhan. Suci dari aspek ruhiyah, sudah kita sapu kalbu kita dari debu saki...