Artsubs

Directions Website

Artsubs Annual art exhibition presenting diverse platform of contemporary arts in Indonesia. 26 October - 24 November 2024 at Pos Bloc Surabaya.

28/10/2026

Karya instalasi oleh Dendy & Darman Studio (DDS) adalah manifestasi eksplorasi seni yang secara sengaja melepaskan diri dari fungsi utilitas interior bangunan pada umumnya. Karya ini menggambarkan bagaimana sebuah negara membangun gagasan dengan keberadaan yang eksklusif dan tiada duanya.
—
This installation by Dendy & Darman Studio (DDS) is a manifestation of artistic exploration that deliberately breaks away from the utilitarian functions typically associated with building interiors. The work illustrates how a nation constructs ideas through an exclusive and unique presence.

Kesempatan untuk mengeksplorasi ide di ARTSUBS. Setiap zona memiliki kisah yang memperlambat langkah mereka untuk mendal...
27/10/2026

Kesempatan untuk mengeksplorasi ide di ARTSUBS. Setiap zona memiliki kisah yang memperlambat langkah mereka untuk mendalami arti di balik setiap karya yang ada.

Kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman dari Universitas Ciputra, IKADO Surabaya, SMA Cita Hati, Lotus Art Courses, Universitas Negeri Surabaya yang turut meramaikan ARTSUBS.
—
ARTSUBS offers the opportunity to explore new ideas. Each zone tells a story that encourages visitors to slow their pace and delve deeper for the meaning behind the artworks on display.

We would like to thank our friends from Ciputra University, IKADO Surabaya, Cita Hati Secondary School, Lotus Art Courses and Surabaya State University for come to ARTSUBS.

27/10/2026

Karya instalasi kolaboratif oleh andyrahman architect merepresentasikan Cakra Manggilingan, metafora bagi siklus hidup yang berputar layaknya roda, bahwa hidup kadang berada di bawah dan kadang di atas, silih berganti, tanpa henti. Dalam narasi visualnya, keserakahan manusia menimbulkan “rengkah” atau “pecah” yang terbuka menganga dalam lingkaran siklus alam. Hal ini dikarenakan eksploitasi alam yang berlebihan tak terkendali dan merusak siklus yang sudah ribuan bahkan jutaan tahun berlangsung.
–
This collaborative installation by andyrahman architect represents the Cakra Manggilingan, a metaphor for the cycle of life that turns like a wheel, illustrating how life is sometimes at the bottom and sometimes at the top, alternating ceaselessly. In its visual narrative, human greed causes a ‘crack’ or ‘break’ that gapes wide open within the circle of the natural cycle. This is due to excessive, uncontrolled exploitation of nature, which disrupts a cycle that has been in place for thousands, even millions, of years.

27/10/2026

Staf Khusus Ekonomi Kreatif, Yovie Widianto melihat bahwa ARTSUBS menjadi daya tarik yang luar biasa bagi Surabaya, karena menghadirkan banyak seniman dengan berbagai keunikan yang dapat dibanggakan.

“Saya berharap kalau bisa ARTSUBS diadakan lebih lama lagi, agar para pelajar maupun masyarakat umum dapat mencintai karya-karya yang ada dan datang ke ARTSUBS.” - Yovie Widianto
—
Yovie Widianto, Special Representative to the President for the Creative Economy, believes that ARTSUBS is an exquisite attraction for Surabaya, as there are many artists with their own unique style and appreciative.

“I hope that, if possible, ARTSUBS can be held for a longer period, so that students and the public can appreciate the works on display and visit ARTSUBS.” – Yovie Widianto

26/10/2026

Staf Khusus Ekonomi Kreatif, Yovie Widianto melihat bahwa ARTSUBS menjadi daya tarik yang luar biasa bagi Surabaya, karena menghadirkan banyak seniman dengan berbagai keunikan yang dapat dibanggakan.

“Saya berharap kalau bisa ARTSUBS diadakan lebih lama lagi, agar para pelajar maupun masyarakat umum dapat mencintai karya-karya yang ada dan datang ke ARTSUBS.” - Yovie Widianto
—
Yovie Widianto, Special Staff for the Creative Economy, believes that ARTSUBS is a tremendous attraction for Surabaya, as there are many artists with their own unique and distinctive qualities of which the city can be proud of.

“I hope that, if possible, ARTSUBS can be held for a longer period, so that students and the general public can appreciate the works on display and visit ARTSUBS.” – Yovie Widianto

26/10/2026

Museum KBUSR, karya kolektif Kantor Bersama Urusan Seni Rupa, menghadirkan ruang yang cair, terbuka, dan terus bergerak. Proyek artistik dan arsitektural utama ARTSUBS 2026 ini menawarkan pengalaman eksperimental untuk membaca ulang hubungan antara seni, sejarah, lanskap, tubuh, dan kekuasaan dalam konteks Indonesia kontemporer.
—
The KBUSR Museum, a collective work by the Joint Office for Fine Arts, presents a fluid, open and ever-evolving space. As the flagship artistic and architectural project of ARTSUBS 2026, it offers an experimental experience that reinterprets the relationships between art, history, landscape, the body and power within the context of contemporary Indonesia.

Gerabah tidak harus berhenti sebagai peninggalan tradisi. Tanah liat, teknik pembuatan, dan pengetahuan turun-temurun da...
26/10/2026

Gerabah tidak harus berhenti sebagai peninggalan tradisi. Tanah liat, teknik pembuatan, dan pengetahuan turun-temurun dapat diolah menjadi bahasa seni kontemporer. Namun, ketika pasar menyusut dan keterampilan perajin menghilang, muncul pertanyaan mendasar: siapa yang akan meneruskan tradisi tersebut?

Persoalan ini terlihat di desa Sitiwinangun, Cirebon, yang masih memiliki perajin meski jumlahnya terus berkurang, dan desa Gosari, Gresik, yang tradisi produksi gerabahnya telah terputus. Gambaran mengenai nasib Gerabah Sitiwinangun dan Gosari, serta di beberapa tempat lain di Indonesia, bahkan di kota-kota di dunia tersebut dibahas dalam Wicara Seniman ARTSUBS 2026 bertajuk “Desa Gerabah: Antara Tradisi, Modernitas, dan Seni Rupa Kontemporer”, Minggu, 25 Oktober 2026, menghadirkan Iftikhar A. Radjwie dan Arik S. Wartono, dengan Asmudjo J. Irianto sebagai moderator.
—
Pottery need not remain merely a relic of tradition. Clay, pottery-making techniques and knowledge passed down through the generations can be transformed into a contemporary artistic language. However, as the market shrinks and the skills of the craftspeople fade away, a fundamental question arises: who will carry on the tradition?

This issue is evident in Sitiwinangun, Cirebon, which still has potters although their numbers are steadily dwindling, and in Gosari, Gresik, where the pottery-making tradition has been severed. Both stories from Sitiwinangun and Gosari, and other perspectives and examples on pottery from different cities in Indonesia and overseas were discussed at the ARTSUBS 2026 Artists’ Talk entitled “Pottery Villages: Between Tradition, Modernity and Contemporary Art”, on Sunday, 25th October 2026, featuring Iftikhar A. Radjwie and Arik S. Wartono, with Asmudjo J. Irianto as moderator.

25/10/2026

Wakil Gubernur Jawa Timur, Bapak Emil Elestianto Dardak melihat karya di ARTSUBS menunjukkan bahwa kita sudah memiliki ekosistem seni dan juga seniman-seniman kreatif yang luar biasa.

“Karya-karya di sini benar-benar menghadirkan suasana galeri seni. Bukan hanya lukisan, tetapi juga instalasi, dengan ragam karya yang tidak terbatas pada seni klasik, melainkan juga merambah seni kontemporer.” - Emil Elestianto Dardak
—

Vice Governor of East Java, Mr Emil Elestianto Dardak sees that the artwork at ARTSUBS show that we already have an arts ecosystem and an extraordinary group of creative artists.

“The works on display here truly evoke the atmosphere of an art gallery. They include not only paintings but also installations, with a range of works that is not limited to classical art but also extends into contemporary art.” – Emil Elestianto Dardak

Bagi Gabriel Eva, alam adalah sumber keindahan sekaligus ruang refleksi. Menurut Nana Yap, melukis merupakan jalan p**an...
25/10/2026

Bagi Gabriel Eva, alam adalah sumber keindahan sekaligus ruang refleksi. Menurut Nana Yap, melukis merupakan jalan p**ang untuk menemukan kembali jati diri. Sementara Zeta Ranniry Abidin beranggapan bahwa seni lukis berkembang dari latihan menguasai teknik menjadi cara mengolah pengalaman dan gagasan. Ketiganya menempuh jalan berbeda, tetapi bertemu pada satu hal: melukis bukan semata-mata menghasilkan gambar, melainkan sebuah proses menjadi diri sendiri.

Ada banyak jalan untuk menjadi pelukis. Ada yang tumbuh dari pendidikan seni rupa, ada yang berangkat dari disiplin lain, dan ada p**a yang menemukan dunia seni setelah bertahun-tahun menjalani profesi berbeda. Pengalaman Gabriel Eva, Nana Yap, dan Zeta Ranniry Abidin memperlihatkan bahwa perjalanan artistik tidak selalu berlangsung lurus. Kadang-kadang, justru melalui persimpangan hidup seseorang menemukan bahasa visual yang paling dekat dengan dirinya.
—
For Gabriel Eva, nature is both a source of beauty and a space for reflection. According to Nana Yap, painting is a path home to rediscovering one’s true self. Meanwhile, Zeta Ranniry Abidin believes that painting evolves from the practice of mastering technique into a means of processing experiences and ideas. All three have taken different paths, but they converge on one point: painting is not merely about producing images, but a process of becoming oneself.

There are many paths to becoming a painter. Some grow out of a fine art education, others set out from different disciplines, and still others discover the world of art after years of working in different professions. The experiences of Gabriel Eva, Nana Yap and Zeta Ranniry Abidin show that an artistic journey does not always follow a straight line. Sometimes, it is precisely through life’s crossroads that one discovers the visual language that resonates most deeply with oneself.

Address

Pos Bloc
Surabaya
60175

Opening Hours

Monday 10:00 - 22:00
Tuesday 10:00 - 22:00
Wednesday 10:00 - 22:00
Thursday 10:00 - 22:00
Friday 10:00 - 22:00
Saturday 10:00 - 22:00
Sunday 10:00 - 22:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Artsubs posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share