Parent Market

Parent Market Situs Web E-commerce
Your Parenting Guide, Media & Event. Make Parenting Easier and More Enjoyable
Part of

Jangan tunggu si kecil sakit dulu baru mulai waspada. Influenza A sedang meningkat, dan anak-anak termasuk yang perlu ki...
21/09/2026

Jangan tunggu si kecil sakit dulu baru mulai waspada. Influenza A sedang meningkat, dan anak-anak termasuk yang perlu kita lindungi. 🤍

Belakangan ini, batuk, pilek, demam, dan badan lemas mungkin terasa seperti penyakit yang “biasa”. Tapi sebagai orang tua, kita tetap perlu lebih aware ketika kasus influenza sedang meningkat.

Data surveilans Kementerian Kesehatan menunjukkan proporsi influenza pada minggu ke-36 mencapai 46%, naik dari 35% pada minggu sebelumnya. Dari influenza yang terdeteksi pada periode tersebut, 42% terjadi pada kelompok usia 0–4 tahun.

Lalu, bagaimana influenza bisa menyebar?

* 🦠 Melalui udara dan droplet
Virus influenza dapat menyebar ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, berbicara, bahkan bernapas, terutama ketika berada berdekatan atau di ruangan tertutup.

* 🤲 Melalui tangan yang terkontaminasi
Anak-anak sangat aktif menyentuh berbagai benda lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut. Tangan yang terkontaminasi virus dapat menjadi salah satu jalur penularan.

* 🏫 Tempat ramai dan kontak dekat
Sekolah, daycare, playground, transportasi, hingga acara keluarga dapat menjadi tempat terjadinya kontak dekat yang memudahkan penularan.

* 👶 Anak kecil perlu mendapat perhatian lebih
WHO memasukkan anak di bawah 5 tahun sebagai salah satu kelompok yang lebih berisiko mengalami komplikasi influenza.

Apa yang bisa parents lakukan?
Dan satu hal yang penting, parents…

Waspada bukan berarti panik.
Kita tidak bisa membuat anak terbebas dari semua virus. Tapi kita bisa membekali mereka dengan kebiasaan kecil yang membantu mengurangi risiko penularan.

Karena terkadang, bentuk perlindungan terbesar dari orang tua bukan sesuatu yang besar melainkan kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari. 🥰✨

Parents, yuk jangan hanya share info ini share juga ke pasangan, keluarga, dan orang-orang yang sering berinteraksi dengan si kecil. Siapa tahu, satu informasi yang kamu bagikan hari ini bisa membantu melindungi satu keluarga lainnya. Simpan postingan ini untuk jadi pengingat di rumah. 🤍

Ada ibu yang terlihat baik-baik saja, padahal setiap malam diam-diam menangis karena merasa sudah tidak punya tenaga lag...
20/09/2026

Ada ibu yang terlihat baik-baik saja, padahal setiap malam diam-diam menangis karena merasa sudah tidak punya tenaga lagi. 🥹

Parenting sering kali dipenuhi kalimat, “Harus sabar ya, namanya juga ibu.”
Tapi siapa yang menemani ibu ketika kesabarannya hampir habis?

Burnout parenting bisa hadir ketika tuntutan untuk menjadi “ibu yang baik” terasa tidak ada habisnya.

• Harus sabar menghadapi anak.
• Harus tetap mengurus rumah.
• Harus tetap bekerja atau produktif.
• Harus menjadi pasangan yang baik.
• Harus hadir secara emosional untuk semua orang.
• Bahkan ketika dirinya sendiri sedang tidak baik-baik saja.

Dan yang paling melelahkan, terkadang ibu merasa tidak punya izin untuk merasa lelah.

Padahal mengakui lelah bukan berarti tidak mencintai anak.
Menangis bukan berarti lemah.
Membutuhkan bantuan bukan berarti gagal menjadi ibu.

Justru, mengenali bahwa diri sendiri sedang kelelahan adalah salah satu bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.

Parents, mari berhenti menuntut ibu untuk selalu kuat. Tanyakan bukan hanya, “Anaknya gimana?”, tetapi juga, “Kamu sendiri gimana?”

Karena terkadang, satu pertanyaan sederhana dan satu uluran tangan bisa berarti sangat besar bagi seorang ibu. 🤍

Kalau kamu pernah merasakan fase ini, kamu tidak sendirian. Tag sesama parents dan share pengalamanmu di kolom komentar yaa Moms.. 🥰✨

Sebagai orang tua, kita selalu ingin memberikan yang terbaik untuk masa depan si Kecil. Tapi tanpa disadarkan rasa lelah...
18/09/2026

Sebagai orang tua, kita selalu ingin memberikan yang terbaik untuk masa depan si Kecil. Tapi tanpa disadarkan rasa lelah sehari-hari, pernahkah kita berpikir kalau beberapa kebiasaan kecil di rumah justru perlahan memadamkan potensi hebat mereka? 🥹

- Kurang Tidur dan Jam Istirahat yang Berantakan: Saat anak tidur nyenyak, otaknya sedang sibuk merajut memori dan memproses hal baru. Saat waktu tidurnya terenggut, kita tanpa sengaja merampas kesempatan otaknya untuk berkembang maksimal.

- Terlalu Dini dan Terlalu Lama Diberi Screen Time: Gadget memang penenang yang ampuh saat kita lelah. Namun, stimulasi instan dari layar membuat otak si Kecil malas berpikir kritis, fokusnya terpecah, dan imajinasinya perlahan meredup.

- Kurang Ajak Interaksi dan Ngobrol: Suara Ayah dan Ibu adalah bahan bakar utama perkembangan bahasanya. Saat kita terlalu sibuk dan jarang mengajaknya bicara, kita sedang menutup pintu kosa kata dan kecerdasan emosionalnya.

- Terlalu Sering Membentak saat Anak Berbuat Salah: Rasa takut yang dihadirkan lewat bentakan merusak sel-sel otak anak yang sedang tumbuh. Anak tidak belajar jadi pintar, melainkan belajar cara bertahan hidup dalam rasa cemas.

- Jarang Memberi Ruang untuk Bergerak Bebas: Otak anak belajar lewat gerakan fisik dan eksplorasi. Terlalu banyak melarang dan mengurungnya di ruang sempit sama saja membatasi daya ingat serta koordinasi otaknya.

Tidak ada orang tua yang sempurna, tapi kita selalu bisa belajar lebih baik hari ini demi senyum dan masa depan mereka. Yuk, simpan unggahan ini sebagai pengingat, dan tag sesama Parents yang sedang berjuang membesarkan si Kecil! 🤗💕

Anak yang nggak bisa diam belum tentu “nakal”. Bisa jadi, tubuhnya sedang menjadi cara ia belajar. 🤍Setiap anak punya ca...
17/09/2026

Anak yang nggak bisa diam belum tentu “nakal”. Bisa jadi, tubuhnya sedang menjadi cara ia belajar. 🤍

Setiap anak punya cara berbeda untuk memahami dunia. Ada yang mudah menyerap informasi lewat membaca, ada yang lebih peka lewat suara, dan ada juga yang justru belajar paling baik ketika tubuhnya ikut bergerak.

Inilah yang sering disebut sebagai kecerdasan kinestetik kemampuan anak untuk menggunakan gerakan tubuh, koordinasi, dan aktivitas fisik sebagai bagian dari proses belajar dan memahami sesuatu.

Coba perhatikan si kecil, apakah ia sering…

✨ Lebih mudah memahami sesuatu sambil bergerak
Daripada duduk diam mendengarkan, ia lebih cepat mengerti ketika langsung mencoba.

✨ Sulit duduk diam dalam waktu lama
Tangan, kaki, atau tubuhnya seolah selalu ingin bergerak. Bukan selalu berarti ia tidak fokus.

✨ Senang menyentuh dan mencoba benda di sekitarnya
Rasa ingin tahunya muncul lewat pengalaman langsung: memegang, membongkar, menyusun, hingga bereksperimen.

✨ Menikmati aktivitas fisik
Berlari, menari, bermain bola, berenang, atau sekadar bermain di playground bisa menjadi aktivitas yang sangat menyenangkan baginya.

✨ Punya koordinasi tubuh yang menonjol
Ia mungkin terlihat menikmati aktivitas yang membutuhkan keseimbangan, kelincahan, atau keterampilan motorik.

✨ Lebih mudah mengingat sesuatu melalui praktik
Daripada hanya diberi penjelasan, ia lebih mudah mengingat ketika pernah melakukan atau mengalami sendiri.

Jadi, sebelum mengatakan “Kok anakku nggak bisa diam, ya?”, coba berhenti sejenak dan lihat dari sudut pandang yang berbeda.

Mungkin bukan ia yang terlalu banyak bergerak. Mungkin kita yang belum menemukan cara belajar yang paling sesuai dengannya. 🥹

Karena tugas kita bukan membuat semua anak belajar dengan cara yang sama, tetapi membantu mereka menemukan cara terbaik untuk bertumbuh.

Parents, coba perhatikan si kecil hari ini. Dari beberapa ciri di atas, mana yang paling sering terlihat pada anak? 💬

Ceritakan di kolom komentar dan share carousel ini untuk jadi bahan observasi bersama parents lainnya. 🥰

Benarkah adab anak zaman sekarang mulai terlupakan?Di tengah dunia yang semakin cepat dan serba digital, mungkin ada beb...
15/09/2026

Benarkah adab anak zaman sekarang mulai terlupakan?

Di tengah dunia yang semakin cepat dan serba digital, mungkin ada beberapa adab sederhana yang dulu begitu dekat dengan keseharian kita, tetapi perlahan mulai jarang terlihat.

Karena sebelum anak tumbuh menjadi seseorang yang pintar, berprestasi, dan sukses, semoga mereka juga tumbuh menjadi manusia yang tahu bagaimana menghargai orang lain. 🤍

Yuk, mulai biasakan lagi adab sederhana ini di rumah:

1. Berdiri saat bersalaman atau menyambut orang yang lebih tua
Ajarkan anak bahwa menyambut dan menghormati orang lain adalah bentuk penghargaan. Tidak harus dengan cara yang kaku, cukup dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan tulus.

2. Salim atau sapa saat bertemu dan berpamitan
Sesederhana mengucapkan “Halo”, “Permisi”, “Terima kasih”, atau “Sampai jumpa” bisa menjadi latihan bagi anak untuk menghargai kehadiran orang lain.

3. Mengucapkan “permisi” saat melewati seseorang
Bukan sekadar sebuah kata, tetapi bentuk kesadaran bahwa ada ruang dan keberadaan orang lain yang perlu kita hormati. Bahkan ketika sedang terburu-buru sekalipun.

4. Tidak duduk lebih tinggi dari orang yang lebih tua
Ajarkan bahwa menghormati orang lain juga bisa ditunjukkan melalui sikap dan posisi tubuh. Bukan tentang siapa yang lebih tinggi, tetapi tentang memahami nilai kesopanan dalam situasi tertentu.

5. Tidak menunjuk orang dengan telunjuk
Hal kecil yang sering dianggap sepele, tetapi bisa menjadi kesempatan untuk mengajarkan anak tentang cara berkomunikasi yang lebih santun.

Dan yang paling penting, jangan hanya meminta anak melakukan semua itu—tunjukkan juga melalui perilaku kita.
Sebab anak mungkin tidak selalu mendengarkan nasihat kita, tetapi mereka hampir selalu memperhatikan apa yang kita lakukan.

Adab bukan sesuatu yang diwariskan hanya lewat nasihat, tetapi lewat contoh yang terus mereka lihat setiap hari. 🌱

Parents, swipe untuk melihat adab mana saja yang mulai harus dibiasakan lagi..
Coba tulis di kolom komentar dan tag pasangan atau sesama parents yang ingin sama-sama menanamkan adab baik ini pada si kecil. 💜

Address

Jalan H. Raya No. 166 Lt 2, RT. 3/RW. 1, Melawai, Kec. Kby. Baru
South Jakarta
12160

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Parent Market posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category