10/01/2026
Dendam Helena: Goda Paman Pacar, Ternyata Sang Paman Jatuh Cinta!
Bab 5: Konfrontasi di Tengah Malam
Setelah pengakuan Aditya di balkon, suasana di pesta keluarga itu menjadi sangat panas bagi Helena. Rendy, yang sejak tadi mengawasi dari jauh dengan kemarahan yang meluap, akhirnya mencegat Helena saat ia sedang berjalan menuju toilet.
"Apa yang kamu lakukan, Helena?!" Rendy mencengkeram lengan Helena, suaranya berbisik namun penuh penekanan. "Kamu mendekati paman Adit hanya untuk membuatku panas? Lepaskan dia! Kamu tidak tahu siapa dia!"
Helena menepis tangan Rendy dengan dingin. Senyum sinis menghiasi bibirnya.
"Kenapa, Rendy? Takut kehilangan warisanmu jika aku menjadi bibi tirimu? Atau takut aku membisikkan pada Aditya betapa busuknya keponakan kesayangannya ini?"
Rendy terdiam, wajahnya pucat. Sebelum ia sempat membalas, sosok tinggi Aditya muncul di belakang Helena. Kehadirannya seketika membekukan suasana.
"Ada masalah di sini, Rendy?" tanya Aditya dengan nada datar namun mengancam. Rendy hanya bisa menunduk dan bergumam minta maaf sebelum pergi dengan langkah seribu.
Bab 6: Harga Sebuah Ketulusan
Malam itu, Aditya mengantar Helena pulang. Di dalam mobil yang sunyi, Helena merasa sesak. Ia merasa seperti penipu ulung. Aditya benar-benar tulus; ia membatalkan semua agenda bisnisnya besok hanya untuk menemani Helena sarapan.
"Kenapa diam, Helena?" tanya Aditya lembut tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
"Aku hanya... tidak menyangka semua akan menjadi sejauh ini," jawab Helena jujur, meski dengan makna yang berbeda.
Aditya menghentikan mobilnya di depan apartemen Helena. Ia menatap Helena dalam-dalam. "Aku tahu kamu punya rahasia. Aku tahu ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku. Tapi aku tidak peduli pada masa lalumu, Helena. Aku hanya peduli pada siapa kamu saat bersamaku sekarang."
Bab 7: Titik Balik
Esok harinya, Helena menerima sebuah amplop cokelat di depan pintunya. Isinya adalah foto-foto Aditya bersama seorang wanita di masa lalu yang sangat mirip dengan Helena. Sebuah catatan terlampir di sana: 'Jangan merasa spesial, Helena.
Kamu hanyalah pengganti untuk cinta pertamanya yang sudah tiada. Aditya tidak mencintaimu, dia mencintai kenangannya.'
Pengirimnya tidak lain adalah Rendy yang mencoba membalas dendam dengan menghancurkan kepercayaan Helena.
Hati Helena mencelos. Apakah selama ini ia hanya dipermainkan oleh takdir? Apakah Aditya benar-benar mencintainya, atau ia hanya bagian dari rencana besar Aditya untuk menyembuhkan lukanya sendiri? Helena menyadari bahwa dalam permainan ini, tidak ada yang benar-benar menang.
"Saat racun dendam mulai bercampur dengan manisnya cinta, Helena tersadar bahwa musuh terbesarnya bukanlah Rendy, melainkan kebenaran yang mulai terungkap. Apakah ia hanya bayangan dari masa lalu pria yang ia coba hancurkan?"