11/08/2025
Di barak itu, bukan hanya pelatihan yang keras.
Ada luka yang tak terlihat di permukaan—luka yang ditorehkan oleh tangan sendiri.
Prajurit muda yang datang dengan semangat juang, perlahan kehilangan sinar di matanya.
Bukan karena perang, tapi karena perang yang lebih kejam di dalam barak itu sendiri.
Ada cerita tentang malam-malam ketika teriakan terdengar dari asrama belakang.
Teriakan itu tak pernah diceritakan di laporan resmi.
Besok paginya, sang prajurit akan berjalan terpincang-pincang, atau tersenyum paksa dengan bibir pecah.
Yang lain hanya diam—mereka tahu kalau bicara, mereka bisa menjadi korban berikutnya.
Barak itu telah menjadi gudang luka dan dendam.
Setiap sudutnya tahu rahasia siapa yang memukul, siapa yang dihina, siapa yang menangis diam-diam di kamar mandi.
Namun semuanya terbungkus rapi di balik slogan "Disiplin dan Kehormatan".
Dendam? Oh, ia tumbuh di sana.
Tumbuh di dada para prajurit yang pernah diinjak harga dirinya.
Dendam yang mereka bawa saat apel, saat makan bersama, bahkan saat tidur—jika mereka bisa tidur.
Dan di malam yang paling sunyi, ada yang berkata mereka bisa mendengar bisikan di lorong:
"Aku tidak akan diam… giliranku akan dimulai"