28/07/2025
POLEMIK MENGUSAP KEPALA ANAK YATIM (Part-2)
Jika Al Imam Ibni Hajar Al-Haitamiy berpendapat bahwa yg dimaksud dengan المسح (mengusap) dalam hadits Nabi saw. adalah benar-benar mengusap kepala yatim, maka berbeda denga pendapat Al Imam At-Thibiy yang dicuplik oleh Al Imam Al Mala Ali Al-Qoriy Al-Hanafiy (ulama' madzhab Hanafi) dalam kitabnya Martul Mafatih yg menyatakan bahwa yang di maksud dengan المسح (mengusap kepala yatim) adalah makna kinayah (bukan makna sebenarnya), yaitu kinayah dari kasih sayang, belas kasih, dan berbuat kelembutan dan cinta pada yatim.
وعن أبي أمامة أي الباهلي قال قال رسول الله من مسح رأس يتيم وكذا حكم اليتيمة بل هي الأولى بالحنية لضعفها ثم التنكير يفيد العموم فيشمل القريب والأجنبي يكون عنده أو عند غيره لم يمسحه حال من فاعل مسح أي والحال أنه لم يمسح رأس اليتيم إلا لله أي لا لغرض سواه كان له أي للماسح بكل شعرة بسكون العين ويفتح أي بكل واحدة من شعر رأسه يمر بالتذكير ويؤنث من المرور أي يأتي عليها وكذا حكم محاذيها يده وفي نسخة من الإمرار ففاعله ضمير الماسح ويده مفعوله حسنات بالرفع على اسم كان والظاهر أن الحسنات مختلفة كمية وكيفية باعتبار تحسين النيات قال الطيبي مسح رأس اليتيم كناية عن الشفقة والتلطف إليه ولما لم تكن الكناية منافية لإرادة الحقيقة لإمكان الجمع بينهما كما تقول فلان طويل النجاد وتريد طول قامته مع طول علاقة سيفه رتب عليه قوله بكل شعرة يمر عليه يده ومن أحسن إلى يتيمة أو يتيم قيل أو للتنويع وقدم اليتيمة لأنها أحوج والظاهر أنه شك من أحد الرواة وقع في غير محله لأن حكم اليتيم قد علم مما سبق ففي هذه الفقرة جير اليتيمة باللطف اللهم إلا أن يخص الإحسان بالأنعام والإنفاق ونحوهما مما يغاير معنى مطلق الإحسان الشامل للمسح
Kesimp**annya ; polemik tentang المسح atau مسح رأس اليتيم kiranya dapat disudahi tanpa celaan, hujatan, dan atau saling menyalahkan. Toh, beberapa penjelasan yg disampaikan oleh tokoh-tokoh agama ternyata sama-sama memiliki dasar dari ulama-ulama yang memiliki kredibilitas dalam mengartikan atau menafsiri hadits Nabi saw.
Baik mengusap kepala dg makna hakiki, maupun mengusap dg makna kinayah ; cinta kasih, berbuat lembut, dan menyayangi yatim, keduanya benar dengan dasar masing-masing analisis ulama tsb.
Alhasil hal ini bisa dipraktekkan, dengan mempertimbangan beberapa faktor dan kondisi tentunya.
1. Jika mengusap kepalanya dirasa menjadikan si yatim tidak nyaman, malu, atau menjadikan beban mental atau moral baginya, maka lebih elok jika kita menyantuni, mengasihi dan menyayanginya dengan tanpa mengusap kepalanya.
2. Jika dirasa mengusap kepalanya tidak menimbulkan efek negatif bagi perasaan si yatim, bahkan benar-benar menjadikannya nyaman, merasa terlindungi, dan disayangi maka eloknya hal ini bisa dilakukan.
3. Bagi komentator (warga yg s**a berkomentar pada acara santunan anak yatim) dengan komentar-komentar yg miring, hendaknya tidak dilakukan, karena pada hakikatnya kita tidak tahu yg sebenarnya apa yg ada di dalam hati anak yatim saat dinaikkan panggung, diberi hadiah (santunan) dan diusap kepalanya.
4. Bagi donatur di acara santunan, apa yang sudah dilakukan pada umumnya (memberi santunan dan mengusap kepala yatim pada acara-acara ceremony di bulan Muharram) ini merupakan perbuatan baik, dan dianjurkan Nabi. Tapi alangkah lebih baik lagi jika menyantuni, menyayangi, dan mengupayakan tercukupinya kebutuhan yatim ini bisa dilakukan di bulan-bulan yg lain, tidak hanya saat ada ceremony pada bulan Muharram saja.