04/01/2026
Mentari pagi menyusup masuk melalui celah gorden, membangunkan Silvi dari tidur yang tidak nyenyak. Ia meregangkan tubuh, merasakan setiap ototnya yang tegang. Semalam, ia telah secara fisik membuang semua kenangan tentang Teddy dan Wina, tapi rasa sakit dan pengkhianatan masih melekat seperti bayangan. Ia sendirian di rumah ini, rumah yang dulu penuh tawa, kini sunyi mencekam.
Silvi bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju dapur. Ia membuat secangkir kopi, menghirup aromanya dalam-dalam, berusaha menikmati momen tenang sebelum badai emosi datang lagi. Pikirannya melayang pada Arkan. Ia harus kuat demi Arkan. Aku bukan lagi istri Teddy, aku sekarang hanya ibu Arkan, tekadnya.
Saat Silvi menyesap kopinya, matanya tertuju pada foto keluarga yang tergantung di dinding—satu-satunya jejak masa lalu yang tersisa. Teddy tersenyum lebar, merangkul Silvi dan Arkan. Mereka tampak sempurna. Tanpa sadar, air mata mulai mengalir di p**i Silvi. Ia merindukan kebodohannya di masa lalu, saat ia masih percaya pada ilusi kesetiaan.
Tiba-tiba, ponselnya berdering di atas meja dapur. Nama Farhan, kakaknya, muncul di layar. Silvi menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab.
"Halo, Ka?"
"Silvi, kamu sudah bangun?" suara Farhan terdengar khawatir, penuh perhatian.
"Sudah, Kak. Ada apa?"
"Ibu ingin bicara denganmu. Beliau sangat khawatir tentangmu. Semalam beliau bahkan tidak bisa tidur."
Silvi menghela napas. Ia tahu ibunya pasti sangat terpukul. Ia tidak ingin menambah beban orang tuanya.
"Baiklah, Kak. Sambungkan saja."
Beberapa detik hening, lalu suara ibunya terdengar, bergetar karena emosi. “Silvi, Nak. Bagaimana keadaanmu? Kamu baik-baik saja, kan?”
"Aku baik-baik saja, Bu," jawab Silvi, mencoba setegar mungkin.
“Sayang, ini bukan salahmu,” potong ibunya, nadanya tegas dan protektif. “Teddy yang salah. Dia sudah mengkhianati kepercayaanmu dan keluarga kita. Jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri,” kata ibunya. “Kamu hanya terlalu percaya pada Teddy dan Wina. Itu bukan kesalahan, itu adalah kebaikanmu.”
"Tapi, Ibu sudah memperingati ku tentang Wina," kata Silvi, isaknya tak tertahankan. “Aku terlalu bodoh, Bu. Semua orang sudah tahu kecuali aku. Aku merasa menjadi bahan tertawaan.”
“Ibu tahu kamu marah, Nak,” lanjut ibunya, suaranya melunak. “Tapi, jangan biarkan kemarahan pada diri sendiri itu menghabiskanmu. Kamu harus fokus pada Arkan dan masa depanmu. Jangan buang energimu, Sil.”
"Aku tahu, Bu," kata Silvi, suaranya tercekat. “Aku merasa bodoh sekali, Bu. Bagaimana bisa aku begitu buta dan percaya pada mereka?”
“Cinta memang bisa membutakan, Sayang,” hibur ibunya. “Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik, jauh lebih baik dari Teddy. Dengarkan Ibu, ya? Ibu akan selalu ada untukmu. Ibu akan membantu menjaga Arkan hari ini. Kamu istirahat saja, atau keluar cari udara segar.”
"Terima kasih, Bu," kata Silvi, rasa lega sedikit menjalarinya. "Aku sangat beruntung memilikimu."
Setelah menutup telepon, Silvi terdiam sejenak. Ia menatap foto keluarga di dinding. Ia merasa sendirian, terisolasi dalam kesedihannya.
Tiba-tiba, ia teringat sesuatu yang mengganggu. Beberapa hari yang lalu, tetangganya, Bu Ratih, pernah mencoba berbicara dengannya tentang Wina. Saat itu, Silvi menepisnya. Sekarang, rasa penasaran itu membakar. Apa yang Bu Ratih tahu? Seberapa jauh gosip ini menyebar?
Dengan tekad yang baru, tekad untuk menggali semua kebenaran dari mulut orang lain, Silvi memutuskan untuk mengunjungi Bu Ratih. Ia harus tahu, mengapa tidak ada seorang pun yang memberitahunya dengan jelas.
Silvi segera keluar dari rumah dan berjalan menuju rumah Bu Ratih yang berada tepat di seberang jalan. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu ini menyakitkan, tapi ia harus menghadapi kebenaran.
Sesampainya di depan pintu rumah Bu Ratih, Silvi menarik napas dalam-dalam dan mengetuk pintu. Tak lama kemudian, pintu terbuka, menampilkan sosok Bu Ratih dengan senyum ramah yang kini tampak sedikit ragu.
"Eh, Silvi? Ada apa? Tumben pagi-pagi begini," tanya Bu Ratih, terkejut.
"Maaf mengganggu, Bu Ratih," kata Silvi dengan suara pelan. "Apa Ibu ada waktu sebentar? Aku ingin bicara sesuatu yang penting."
Bu Ratih tampak ragu sejenak, lalu mengangguk. “Oh, tentu, Silvi. Mari masuklah.”
Mereka duduk di ruang tamu. Suasana terasa canggung.
"Jadi, ada apa, Silvi?" tanya Ibu Ratih, menatap Silvi dengan simpati.
Silvi menarik napas dalam-dalam. “Aku... aku ingin bertanya tentang Wina,” katanya, tanpa basa-basi. “Beberapa hari lalu, Ibu sempat memberikan kode tentang dia. Sekarang, aku butuh kejujuran Ibu. Semua tetangga tahu, kan?”
Wajah Bu Ratih langsung berubah serius dan menyesal. “Ya Tuhan, Silvi…” Ia menghela napas panjang. “Aku tidak ingin ikut campur. Tapi iya, sebagai tetangga, aku merasa berkewajiban untuk memberitahumu secara tidak langsung. Aku... aku sering melihat Wina dan Teddy…”
Bu Ratih berhenti sejenak, tampak kesulitan mencari kata-kata. “Aku sering melihat mereka bercengkrama dan terlihat mesra saat kau tidak ada di rumah,” lanjutnya dengan suara pelan. “Mereka... mereka terlihat terlalu akrab. Aku tidak tahu detailnya, tapi kecurigaan itu sudah lama ada, Nak. Itu bukan hanya sekali dua kali.”
Silvi terdiam. Pengakuan itu terasa seperti ribuan jarum menusuknya. “Jadi, semua orang di sini tahu? Sejak kapan?” tanyanya dengan suara bergetar dan lirih.
Bu Ratih mengangguk pelan. “Bisa dibilang begitu. Beberapa tetangga lain juga melihatnya. Kami semua prihatin denganmu, Silvi. Kami sudah coba berikan isyarat, tapi kamu mungkin terlalu percaya pada mereka.”
Silvi menunduk, menahan ledakan emosi. Ia merasa malu dan hancur. “Kenapa Ibu tidak bilang lebih jelas? Kenapa semua orang membiarkan aku menjadi orang bodoh di sini?”
“Silvi, aku sudah mencoba,” jawab Ibu Ratih dengan nada menyesal. “Aku sudah memberikan kode-kode. Aku takut kamu marah besar dan menganggap aku tukang gosip. Kami tidak punya bukti fisik. Tapi percayalah, kami semua di sini mendukungmu.”
“Maafkan aku, Bu Ratih,” kata Silvi dengan suara tercekat. “Maafkan aku karena tidak mendengarkan mu. Terima kasih karena sudah jujur padaku sekarang.”
Bu Ratih mengusap lembut punggung tangan Silvi. “Sudahlah, Silvi. Semua sudah terjadi. Yang penting sekarang, kamu harus bangkit. Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan baru.”
Silvi bangkit dari sofa. “Aku harus pergi sekarang,” katanya. “Aku harus memikirkan apa yang harus aku lakukan selanjutnya.”
“Hati-hati di jalan, Silvi. Dan ingat, kamu tidak sendirian. Kami siap membantumu,” kata Bu Ratih.
Silvi berjalan keluar dari rumah Bu Ratih. Ia berjalan gontai menyusuri jalan, pikirannya berkecamuk. Ia harus fokus. Ia harus kuat.
Saat ia berjalan, pikiran Silvi mulai merangkai motif Wina. Ia mengingat semua keluhan Wina tentang hidupnya yang tidak bahagia dan kesepian. Apakah Wina melakukan ini karena iri padaku? Apakah dia ingin merebut kebahagiaanku? Jika itu benar, Wina adalah wanita yang terluka, putus asa, dan berbahaya. Pemahaman ini tidak membenarkan tindakannya, tapi membuat Silvi merasa... lelah.
Ia berjalan pulang dengan langkah gontai. Sesampainya di rumah, ia melihat Arkan sedang bermain di ruang tamu. Senyum Arkan menyambutnya. Ia memeluk Arkan erat-erat, merasakan kehangatan putranya.
"Mama kenapa?" tanya Arkan, merasakan aura kesedihan ibunya.
Silvi tersenyum pahit. “Mama tidak apa-apa, Sayang..”
"Mama mau Arkan buatkan teh hangat?" tanya Arkan dengan polos.
Silvi tersenyum dan mengangguk. Arkan berlari ke dapur. Silvi memperhatikan putranya dengan haru. Arkan adalah segalanya. Ia tidak bisa membiarkan kebencian dan dendam menguasai dirinya.
Saat Arkan membawakan teh untuknya, Silvi memutuskan sesuatu. Ia tidak akan membiarkan Wina menghancurkan hidupnya lebih jauh lagi. Ia akan memaafkan Wina bukan untuk Wina, tapi untuk dirinya sendiri dan untuk Arkan. Pencabutan tuntutan terhadap Wina harus segera dilakukan demi ketenangan batinnya.
Keesokan harinya, Silvi menghubungi pengacaranya.
"Pak," kata Silvi dengan mantap. “Saya ingin memaafkan Wina dan mencabut tuntutan pidana terhadapnya. Saya hanya ingin ketenangan, Pak. Itu yang paling penting sekarang.”
Pengacaranya terkejut, namun menghormati keputusan Silvi. "Baiklah, Bu Silvi. Saya akan mengurusnya."
Setelah menutup telepon, Silvi merasa lega. Ia tahu, perjalanan pemulihannya masih panjang, tapi ia sudah mengambil langkah final untuk memutus semua ikatan emosi negatif.
Namun, di saat ia merasa lega, ponselnya berdering. Sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal. Jantungnya berdebar saat membukanya.
'Jangan percaya pada siapa pun, Silvi. Mereka semua berbohong padamu. Ada rahasia yang fatal.'
Silvi membeku. Siapa ini? Sebelum sempat membalas atau melacak nomornya, ponselnya kembali berdering. Kali ini, panggilan masuk dari nomor yang sama. Dengan tangan gemetar, Silvi mengangkat telepon.
"Halo? Siapa ini?"
Tidak ada jawaban, hanya suara napas berat dan gemerisik yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Jawab! Siapa yang bicara?" tanya Silvi, suaranya naik.
Tiba-tiba, suara itu berbicara. Suara seorang wanita yang terdengar familiar, namun tidak bisa ia kenali dengan pasti, seperti suara yang sengaja dipelankan.
"Waktumu tidak banyak, Silvi. Kebenaran yang kau cari, akan segera menghancurkan mu. Mereka semua menyembunyikan sesuatu yang lebih besar dari perselingkuhan."
Klik. Sambungan terputus.
Silvi terpaku di tempat. Tangan mencengkeram ponsel. Siapa wanita itu? Dan kebenaran apa yang dimaksudnya? Apakah ini terkait dengan karma yang akan datang? Ia merasa seperti terperangkap dalam labirin yang gelap dan berbahaya, di mana setiap orang adalah aktor dan dia adalah korban yang ditertawakan. Dan yang lebih menakutkan lagi, ia tidak tahu siapa yang bisa ia percayai lagi di tengah semua kebohongan ini.