Listia Libra Wedding

Listia Libra Wedding Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Listia Libra Wedding, Event Planner, Jalan gandaria 1 rt05/05 no 18 kel ratu jaya/kec cipayung, Depok.

09/01/2026

Jika seorang wanita menangis karena disakiti oleh seorang pria,
maka itu bukan hanya luka di hatinya.
Ada doa yang terucap tanpa suara,
dan setiap langkah kaki yang menyakitinya
tak pernah luput dari catatan langit.
Tagar






Membujuk Itu Tanda CintaTak semua suami mau mengalah.Tak semua mau membujuk.Karena membujuk hanya dilakukan oleh merekay...
05/01/2026

Membujuk Itu Tanda Cinta
Tak semua suami mau mengalah.
Tak semua mau membujuk.
Karena membujuk hanya dilakukan oleh mereka
yang mencintai dan takut kehilangan.
Sisanya… memilih diam dan pergi tidur.





05/01/2026

Tak semua suami mau mengalah.
Tak semua mau membujuk.
Karena membujuk hanya dilakukan oleh mereka
yang mencintai dan takut kehilangan.
Sisanya… memilih diam dan pergi tidur.
Tagar:




04/01/2026

Mentari pagi menyusup masuk melalui celah gorden, membangunkan Silvi dari tidur yang tidak nyenyak. Ia meregangkan tubuh, merasakan setiap ototnya yang tegang. Semalam, ia telah secara fisik membuang semua kenangan tentang Teddy dan Wina, tapi rasa sakit dan pengkhianatan masih melekat seperti bayangan. Ia sendirian di rumah ini, rumah yang dulu penuh tawa, kini sunyi mencekam.

​Silvi bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju dapur. Ia membuat secangkir kopi, menghirup aromanya dalam-dalam, berusaha menikmati momen tenang sebelum badai emosi datang lagi. Pikirannya melayang pada Arkan. Ia harus kuat demi Arkan. Aku bukan lagi istri Teddy, aku sekarang hanya ibu Arkan, tekadnya.

​Saat Silvi menyesap kopinya, matanya tertuju pada foto keluarga yang tergantung di dinding—satu-satunya jejak masa lalu yang tersisa. Teddy tersenyum lebar, merangkul Silvi dan Arkan. Mereka tampak sempurna. Tanpa sadar, air mata mulai mengalir di p**i Silvi. Ia merindukan kebodohannya di masa lalu, saat ia masih percaya pada ilusi kesetiaan.

​Tiba-tiba, ponselnya berdering di atas meja dapur. Nama Farhan, kakaknya, muncul di layar. Silvi menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab.

​"Halo, Ka?"

​"Silvi, kamu sudah bangun?" suara Farhan terdengar khawatir, penuh perhatian.

​"Sudah, Kak. Ada apa?"

​"Ibu ingin bicara denganmu. Beliau sangat khawatir tentangmu. Semalam beliau bahkan tidak bisa tidur."

​Silvi menghela napas. Ia tahu ibunya pasti sangat terpukul. Ia tidak ingin menambah beban orang tuanya.

​"Baiklah, Kak. Sambungkan saja."

​Beberapa detik hening, lalu suara ibunya terdengar, bergetar karena emosi. “Silvi, Nak. Bagaimana keadaanmu? Kamu baik-baik saja, kan?”

​"Aku baik-baik saja, Bu," jawab Silvi, mencoba setegar mungkin.

​“Sayang, ini bukan salahmu,” potong ibunya, nadanya tegas dan protektif. “Teddy yang salah. Dia sudah mengkhianati kepercayaanmu dan keluarga kita. Jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri,” kata ibunya. “Kamu hanya terlalu percaya pada Teddy dan Wina. Itu bukan kesalahan, itu adalah kebaikanmu.”

​"Tapi, Ibu sudah memperingati ku tentang Wina," kata Silvi, isaknya tak tertahankan. “Aku terlalu bodoh, Bu. Semua orang sudah tahu kecuali aku. Aku merasa menjadi bahan tertawaan.”

​“Ibu tahu kamu marah, Nak,” lanjut ibunya, suaranya melunak. “Tapi, jangan biarkan kemarahan pada diri sendiri itu menghabiskanmu. Kamu harus fokus pada Arkan dan masa depanmu. Jangan buang energimu, Sil.”

​"Aku tahu, Bu," kata Silvi, suaranya tercekat. “Aku merasa bodoh sekali, Bu. Bagaimana bisa aku begitu buta dan percaya pada mereka?”

​“Cinta memang bisa membutakan, Sayang,” hibur ibunya. “Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik, jauh lebih baik dari Teddy. Dengarkan Ibu, ya? Ibu akan selalu ada untukmu. Ibu akan membantu menjaga Arkan hari ini. Kamu istirahat saja, atau keluar cari udara segar.”

​"Terima kasih, Bu," kata Silvi, rasa lega sedikit menjalarinya. "Aku sangat beruntung memilikimu."

​Setelah menutup telepon, Silvi terdiam sejenak. Ia menatap foto keluarga di dinding. Ia merasa sendirian, terisolasi dalam kesedihannya.

​Tiba-tiba, ia teringat sesuatu yang mengganggu. Beberapa hari yang lalu, tetangganya, Bu Ratih, pernah mencoba berbicara dengannya tentang Wina. Saat itu, Silvi menepisnya. Sekarang, rasa penasaran itu membakar. Apa yang Bu Ratih tahu? Seberapa jauh gosip ini menyebar?

​Dengan tekad yang baru, tekad untuk menggali semua kebenaran dari mulut orang lain, Silvi memutuskan untuk mengunjungi Bu Ratih. Ia harus tahu, mengapa tidak ada seorang pun yang memberitahunya dengan jelas.

​Silvi segera keluar dari rumah dan berjalan menuju rumah Bu Ratih yang berada tepat di seberang jalan. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu ini menyakitkan, tapi ia harus menghadapi kebenaran.

​Sesampainya di depan pintu rumah Bu Ratih, Silvi menarik napas dalam-dalam dan mengetuk pintu. Tak lama kemudian, pintu terbuka, menampilkan sosok Bu Ratih dengan senyum ramah yang kini tampak sedikit ragu.

​"Eh, Silvi? Ada apa? Tumben pagi-pagi begini," tanya Bu Ratih, terkejut.

​"Maaf mengganggu, Bu Ratih," kata Silvi dengan suara pelan. "Apa Ibu ada waktu sebentar? Aku ingin bicara sesuatu yang penting."

​Bu Ratih tampak ragu sejenak, lalu mengangguk. “Oh, tentu, Silvi. Mari masuklah.”

​Mereka duduk di ruang tamu. Suasana terasa canggung.

​"Jadi, ada apa, Silvi?" tanya Ibu Ratih, menatap Silvi dengan simpati.

​Silvi menarik napas dalam-dalam. “Aku... aku ingin bertanya tentang Wina,” katanya, tanpa basa-basi. “Beberapa hari lalu, Ibu sempat memberikan kode tentang dia. Sekarang, aku butuh kejujuran Ibu. Semua tetangga tahu, kan?”

​Wajah Bu Ratih langsung berubah serius dan menyesal. “Ya Tuhan, Silvi…” Ia menghela napas panjang. “Aku tidak ingin ikut campur. Tapi iya, sebagai tetangga, aku merasa berkewajiban untuk memberitahumu secara tidak langsung. Aku... aku sering melihat Wina dan Teddy…”

​Bu Ratih berhenti sejenak, tampak kesulitan mencari kata-kata. “Aku sering melihat mereka bercengkrama dan terlihat mesra saat kau tidak ada di rumah,” lanjutnya dengan suara pelan. “Mereka... mereka terlihat terlalu akrab. Aku tidak tahu detailnya, tapi kecurigaan itu sudah lama ada, Nak. Itu bukan hanya sekali dua kali.”

​Silvi terdiam. Pengakuan itu terasa seperti ribuan jarum menusuknya. “Jadi, semua orang di sini tahu? Sejak kapan?” tanyanya dengan suara bergetar dan lirih.

​Bu Ratih mengangguk pelan. “Bisa dibilang begitu. Beberapa tetangga lain juga melihatnya. Kami semua prihatin denganmu, Silvi. Kami sudah coba berikan isyarat, tapi kamu mungkin terlalu percaya pada mereka.”

​Silvi menunduk, menahan ledakan emosi. Ia merasa malu dan hancur. “Kenapa Ibu tidak bilang lebih jelas? Kenapa semua orang membiarkan aku menjadi orang bodoh di sini?”

​“Silvi, aku sudah mencoba,” jawab Ibu Ratih dengan nada menyesal. “Aku sudah memberikan kode-kode. Aku takut kamu marah besar dan menganggap aku tukang gosip. Kami tidak punya bukti fisik. Tapi percayalah, kami semua di sini mendukungmu.”

​“Maafkan aku, Bu Ratih,” kata Silvi dengan suara tercekat. “Maafkan aku karena tidak mendengarkan mu. Terima kasih karena sudah jujur padaku sekarang.”

​Bu Ratih mengusap lembut punggung tangan Silvi. “Sudahlah, Silvi. Semua sudah terjadi. Yang penting sekarang, kamu harus bangkit. Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan baru.”

​Silvi bangkit dari sofa. “Aku harus pergi sekarang,” katanya. “Aku harus memikirkan apa yang harus aku lakukan selanjutnya.”

​“Hati-hati di jalan, Silvi. Dan ingat, kamu tidak sendirian. Kami siap membantumu,” kata Bu Ratih.

​Silvi berjalan keluar dari rumah Bu Ratih. Ia berjalan gontai menyusuri jalan, pikirannya berkecamuk. Ia harus fokus. Ia harus kuat.

​Saat ia berjalan, pikiran Silvi mulai merangkai motif Wina. Ia mengingat semua keluhan Wina tentang hidupnya yang tidak bahagia dan kesepian. Apakah Wina melakukan ini karena iri padaku? Apakah dia ingin merebut kebahagiaanku? Jika itu benar, Wina adalah wanita yang terluka, putus asa, dan berbahaya. Pemahaman ini tidak membenarkan tindakannya, tapi membuat Silvi merasa... lelah.

​Ia berjalan pulang dengan langkah gontai. Sesampainya di rumah, ia melihat Arkan sedang bermain di ruang tamu. Senyum Arkan menyambutnya. Ia memeluk Arkan erat-erat, merasakan kehangatan putranya.

​"Mama kenapa?" tanya Arkan, merasakan aura kesedihan ibunya.

​Silvi tersenyum pahit. “Mama tidak apa-apa, Sayang..”

​"Mama mau Arkan buatkan teh hangat?" tanya Arkan dengan polos.

​Silvi tersenyum dan mengangguk. Arkan berlari ke dapur. Silvi memperhatikan putranya dengan haru. Arkan adalah segalanya. Ia tidak bisa membiarkan kebencian dan dendam menguasai dirinya.

​Saat Arkan membawakan teh untuknya, Silvi memutuskan sesuatu. Ia tidak akan membiarkan Wina menghancurkan hidupnya lebih jauh lagi. Ia akan memaafkan Wina bukan untuk Wina, tapi untuk dirinya sendiri dan untuk Arkan. Pencabutan tuntutan terhadap Wina harus segera dilakukan demi ketenangan batinnya.

​Keesokan harinya, Silvi menghubungi pengacaranya.

​"Pak," kata Silvi dengan mantap. “Saya ingin memaafkan Wina dan mencabut tuntutan pidana terhadapnya. Saya hanya ingin ketenangan, Pak. Itu yang paling penting sekarang.”

​Pengacaranya terkejut, namun menghormati keputusan Silvi. "Baiklah, Bu Silvi. Saya akan mengurusnya."

​Setelah menutup telepon, Silvi merasa lega. Ia tahu, perjalanan pemulihannya masih panjang, tapi ia sudah mengambil langkah final untuk memutus semua ikatan emosi negatif.

​Namun, di saat ia merasa lega, ponselnya berdering. Sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal. Jantungnya berdebar saat membukanya.

​'Jangan percaya pada siapa pun, Silvi. Mereka semua berbohong padamu. Ada rahasia yang fatal.'

​Silvi membeku. Siapa ini? Sebelum sempat membalas atau melacak nomornya, ponselnya kembali berdering. Kali ini, panggilan masuk dari nomor yang sama. Dengan tangan gemetar, Silvi mengangkat telepon.

​"Halo? Siapa ini?"

​Tidak ada jawaban, hanya suara napas berat dan gemerisik yang membuat bulu kuduk berdiri.

​"Jawab! Siapa yang bicara?" tanya Silvi, suaranya naik.

​Tiba-tiba, suara itu berbicara. Suara seorang wanita yang terdengar familiar, namun tidak bisa ia kenali dengan pasti, seperti suara yang sengaja dipelankan.

​"Waktumu tidak banyak, Silvi. Kebenaran yang kau cari, akan segera menghancurkan mu. Mereka semua menyembunyikan sesuatu yang lebih besar dari perselingkuhan."

​Klik. Sambungan terputus.

​Silvi terpaku di tempat. Tangan mencengkeram ponsel. Siapa wanita itu? Dan kebenaran apa yang dimaksudnya? Apakah ini terkait dengan karma yang akan datang? Ia merasa seperti terperangkap dalam labirin yang gelap dan berbahaya, di mana setiap orang adalah aktor dan dia adalah korban yang ditertawakan. Dan yang lebih menakutkan lagi, ia tidak tahu siapa yang bisa ia percayai lagi di tengah semua kebohongan ini.




03/01/2026





Ada luka yang tak bisa disembuhkan dengan maaf.Ada pengkhianatan yang tak pantas diberi kesempatan kedua.Silvi belajar s...
02/01/2026

Ada luka yang tak bisa disembuhkan dengan maaf.
Ada pengkhianatan yang tak pantas diberi kesempatan kedua.
Silvi belajar satu hal hari itu:
melepaskan bukan kalah,
tapi bentuk paling berani dari mencintai diri sendiri.
👉 Lanjutannya ada di novel Karma Suami Selingkuh Kbm App
Siap-siap sakit… tapi nagih.





02/01/2026

Ada luka yang tak bisa disembuhkan dengan maaf.
Ada pengkhianatan yang tak pantas diberi kesempatan kedua.
Silvi belajar satu hal hari itu:
melepaskan bukan kalah,
tapi bentuk paling berani dari mencintai diri sendiri.
👉 Lanjutannya ada di Novel Karma Suami Selingkuhbdi Kbm App.
Siap-siap sakit… tapi nagih.




Bab 3 Sesal di Balik JerujiPagi itu, langit tampak mendung pekat, seolah ikut menanggung beratnya perasaan Silvi. Ia mer...
01/01/2026

Bab 3 Sesal di Balik Jeruji
Pagi itu, langit tampak mendung pekat, seolah ikut menanggung beratnya perasaan Silvi. Ia merasakan dinginnya udara menembus jaket tipisnya. Setelah melewati malam tanpa tidur, ia memaksakan diri berangkat ke kantor polisi ditemani kakaknya, Farhan. Di pangkuannya, map cokelat berisi salinan laporan penggerebekan semalam tampak kusut karena genggamannya yang terlalu erat. Rasa sakit di hati masih sama, namun pagi ini, ada lapisan baja yang melapisi perasaannya tekad untuk menyelesaikan segalanya.

Sesampainya di kantor polisi, suasana terasa tegang dan suram. Bau kopi pahit dan rokok bercampur di udara lembap, suara sepatu petugas beradu dengan lantai koridor yang terasa dingin. Silvi melangkah pelan, dadanya berdebar tak menentu, bukan karena takut, melainkan karena jijik akan apa yang akan ia hadapi.

Seorang polisi menghampirinya.

“Bu Silvi? Silakan ikut saya, Bu. Suami Ibu ingin bertemu,” katanya dengan nada formal tapi lembut.

Farhan langsung menatap Silvi tajam, memberikan tatapan penuh peringatan. “Kamu yakin mau ketemu dia, Sil? Ini pasti cuma drama.”

Silvi mengangguk pelan, tanpa melepaskan tatapannya dari Farhan. "Aku harus denger sendiri, Kak… dari mulutnya. Aku nggak mau ada sisa pertanyaan lagi di kepalaku."

Mereka dibawa menuju ruang tahanan sementara. Di balik jeruji besi yang kusam dan berbau, Teddy duduk dengan kepala tertunduk. Wajahnya tampak bengkak dan penuh penyesalan atau setidaknya, Silvi berharap itu penyesalan. Bekas luka lebam masih terlihat jelas di p**i dan pelipisnya akibat amukan warga. Rambutnya acak-acakan, bajunya kusut dan kotor. Ia tampak menyedihkan.

Saat melihat Silvi, Teddy langsung berdiri, matanya memerah menahan tangis.

“Silvi…” suaranya serak dan hampir tak bersuara. “Aku tahu aku salah. Tolong… aku mohon, jangan ajukan cerai. Aku khilaf, aku… aku kehilangan arah.”

Silvi menatapnya lama. Air matanya sudah habis. Kini, yang tersisa hanyalah kekosongan dan amarah yang dingin. “Khilaf? Kamu sebut itu khilaf, Teddy? Kamu melakukannya di rumah kita, di kamar kita. Sama sahabatku sendiri. Itu bukan khilaf itu namanya pilihan, Ted. Pilihan yang kamu ambil berkali-kali.”

Teddy menunduk, bahunya bergetar hebat. “Aku menyesal, Silvi. Aku bodoh. Aku cuma… aku merasa kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan, aku kesepian. Tapi aku janji, aku bakal berubah.”

Farhan yang berdiri di samping Silvi langsung mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. “Kesepian? Jadi itu alasan buat tidur sama cewek lain di rumah adikku? Kalau bukan di kantor polisi, udah aku bikin kamu nggak bisa ngomong lagi, ya!”

Petugas buru-buru menenangkan. “Pak, tolong tenang.”

Silvi menarik napas panjang, menatap Teddy lurus-lurus, menusuk hingga ke dasar hati.

“Kesepian itu bukan excuse buat ngancurin keluarga, Ted. Kamu tahu nggak berapa kali aku nahan diri pas kamu mulai aneh? Saat kamu pulang makin malam, makin sering diam, dan berhenti menatapku seperti dulu? Aku pikir kamu cuma lelah karena tuntutan kerjaan. Aku mikir, 'Ah, dia cuma butuh dukungan.' Tapi ternyata kamu sibuk sama Wina di belakangku, ya. Jadi selama ini aku overthinking sendirian, padahal kamu malah asyik membangun dunia baru dengan sahabatku.”

Ia menelan ludah, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan. “Kamu menghancurkan aku secara mental, Teddy. Lebih sakit daripada sekadar putus cinta.”

Teddy menangis, tersedu-sedu. Ia bersandar pada jeruji besi, tubuhnya tampak lemas. Tapi Silvi tetap diam. Dalam hatinya, ada perang dahsyat antara kenangan indah saat mereka pertama bertemu dan kenyataan pahit yang menghantamnya hari ini.

“Silvi… aku rela dihukum atau dipenjara di sini. Tapi tolong jangan benci aku selamanya,” ucap Teddy lirih.

Silvi membalas dengan nada tenang namun tegas, “Aku nggak perlu benci kamu, Teddy. Karena benci itu buat orang yang masih aku peduliin, yang masih punya tempat di hati aku. Sekarang, aku cuma mau bebas dari kamu. Lepas.”

Teddy jatuh terduduk di lantai, merosot tak berdaya. Tangisnya pecah, menyisakan suara pilu di balik jeruji. Namun, Silvi hanya membalikkan badan dan melangkah pergi. Ia tak mau lagi memberikan satu detik pun energinya untuk drama penyesalan itu.

Di luar ruang tahanan, udara terasa pengap, dan koridor terasa panjang sekali. Silvi berjalan cepat, hampir tanpa suara, hingga Farhan menahan lengannya.

“Silvi… yakin kamu nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa gimana, Kak,” jawabnya pelan, menghela napas yang berat. “Tapi aku juga nggak mau pura-pura kuat. Aku cuma mau urusan ini cepat kelar.”

Farhan mengangguk, menepuk bahu adiknya. “Kamu udah cukup kuat dengan datang ke sini dan ngomong semua itu di depan dia. Sekarang kita pikirin langkah selanjutnya.”

Mereka menuju ruang penyidik. Di sana, Pak Jaya Ketua RT yang bertanggung jawab atas laporan sudah menunggu.

“Silvi, saya sudah kasih semua keterangan ke polisi,” katanya. “Video dan foto dari warga juga sudah menjadi bukti. Kasus ini akan lanjut ke ranah hukum.”

Silvi menunduk sopan. “Terima kasih, Pak Jaya. Saya tahu ini nggak mudah juga buat Bapak dan warga.”

Pak Jaya menghela napas panjang. “Saya cuma berharap kamu bisa tenang, Nak. Jangan terus-terusan nyalahin diri sendiri. Kadang Tuhan kasih luka dulu, baru nanti happy ending-nya nyusul.”

Sebelum meninggalkan kantor polisi, rasa penasaran yang gelap mendorong Silvi untuk melirik ke ruang sebelah tempat Wina ditahan.

Perempuan itu tampak duduk sendirian, wajahnya pucat, mata bengkak, dan tubuhnya terlihat rapuh. Saat melihat Silvi, Wina mencoba berdiri.

“Silvi… aku minta maaf,” katanya lemah. “Aku… aku nggak tahu harus gimana. Aku nyesel, beneran.”

Silvi menatapnya tanpa ekspresi. Tatapan itu menusuk tanpa perlu kata-kata.

“Kamu tahu apa yang paling nyakitin, Wina?” katanya pelan tapi tajam, suaranya terdengar dingin seperti es. “Bukan karena kamu ngerebut suamiku. Tapi karena kamu ngelakuinnya setelah makan dari tangan yang sama yang pernah ngasih kamu makan. Kamu pengkhianat terburuk yang pernah aku kenal.”

Wina menunduk, menangis histeris. Tapi Silvi sudah berbalik pergi tanpa menoleh lagi.

Sore itu, di rumah ibunya, Silvi duduk di teras sambil menatap hujan yang kembali turun. Suasana yang teduh itu kontras dengan gejolak di hatinya. Di pangkuannya, ada berkas gugatan cerai yang baru saja ia tanda tangani.

Ia menatap tulisan tangannya sendiri yang gemetar di atas kertas itu sebuah tanda bahwa luka hatinya kini mulai berubah menjadi tekad. Perceraian ini bukan akhir, tapi awal dari menyelamatkan dirinya sendiri.

Namun sebelum ia sempat menyimpan berkas itu ke dalam map, ponselnya berdering. Nomor tak dikenal lagi.

Silvi ragu sejenak, lalu mengangkatnya.

“Bu Silvi?” suara di seberang terdengar serius. “Ini dari kepolisian. Kami ingin memberi tahu bahwa tahanan bernama Teddy baru saja dibawa ke rumah sakit. Ia mengalami sesak napas mendadak.”

Silvi terpaku, tangannya mencengkeram ponsel. “Hah? Maksud Bapak? Dia kenapa?”

“Kami belum tahu pasti, Bu. Tapi kondisinya cukup parah. Kami sarankan Ibu segera datang.”

Ponsel itu hampir terlepas dari tangannya. Dunia di sekelilingnya terasa berputar, seolah nasib sedang menertawakannya.

Ia menatap langit yang kelabu dan entah kenapa, air matanya menetes lagi. Kali ini bukan karena benci atau sakit hati, tapi karena kebingungan dan rasa kasihan yang tidak diinginkan.
Baca selengkapnya di Kbm App ya kawan🙏




Bab 2 Sisa Tangisan SemalamMalam itu benar-benar jadi malam paling panjang dalam hidup Silvi. Setelah warga bubar dan du...
31/12/2025

Bab 2
Sisa Tangisan Semalam
Malam itu benar-benar jadi malam paling panjang dalam hidup Silvi. Setelah warga bubar dan dua pelaku itu dibawa polisi, rumah terasa mati. Sunyi. Cuma suara jangkrik di luar jendela yang mengiringi tangis lirih yang terus keluar tanpa jeda.

​Ia duduk di lantai kamar yang berantakan, menatap baju-baju yang berserakan. Tiap sudut ruangan seolah berteriak, menyimpan luka dan kenangan yang menusuk hati. Di atas meja rias, masih terpajang foto pernikahannya dengan Teddy senyum bahagia mereka kini terasa seperti penghianatan paling keji.

​Silvi menatap wajah Teddy di foto itu lama. Perlahan, ia meraihnya dan memasukkannya ke dalam laci. "Kamu bukan lagi orang yang aku kenal, Ted," bisiknya lirih sebelum menutup laci itu pelan.

​Malam semakin larut, tapi mata Silvi tak mau terpejam. Air matanya sudah kering, berganti rasa sesak dan marah yang menyatu. Ia tahu, hidupnya nggak akan sama lagi. Tapi di antara sakit yang menyesakkan itu, ada satu nama yang terus menguatkannya: Arkan.

​Putranya. Satu-satunya alasan untuk tetap hidup dan kuat.

​Pagi itu, Silvi melangkah keluar rumah dengan langkah gontai. Semalaman menangis, tubuhnya lemah, dan kepalanya berdenyut hebat. Ia sudah izin untuk tidak masuk kerja hari itu.

​Dulu, tiap pagi ia diantar Teddy dengan motor tuanya, Arkan duduk di tengah, tertawa riang memegang helm kebesaran. Kini semua itu tinggal kenangan pahit.

​Kereta pagi lewat di kejauhan, suaranya sayup-sayup membuat dada Silvi makin sesak. Ia menatap rel yang membentang lurus, seperti jalan hidupnya yang kini harus ia tempuh sendirian.

​Sesampainya di rumah ibunya, Silvi disambut pelukan hangat. Ibu memeluknya lama tanpa bicara, hanya menepuk-nepuk punggungnya lembut pelukan yang ia butuhkan lebih dari apa pun. Di ruang tamu, Arkan sedang bermain mobil-mobilan. Anak itu menoleh dan tersenyum polos.

​“Mamaaa…” panggilnya, lalu berlari memeluk kaki Silvi.

​Silvi hampir tak sanggup menahan tangis lagi. "Mama di sini, Nak," jawabnya dengan suara bergetar.

​"Kenapa mata Mama merah kayak habis nonton drama korea?" tanya Arkan polos.

​Pertanyaan sederhana itu menembus jantung Silvi. Ia mengelus kepala anaknya sambil tersenyum paksa. "Mama cuma capek banget, Sayang..."

​"Arkan main lagi ya sama Dio, Nenek mau ngobrol dulu sama Mama," ujar Ibu. Arkan mengangguk, lalu kembali bermain dengan temannya di teras depan.

​"Ada apa, Nak? Kamu kenapa? Cerita sama Ibu," kata Ibunya. Silvi tak sanggup bicara, hanya mampu menangis sambil memeluk Ibunya erat. Semua kata tertelan di tenggorokan.

​Tiba-tiba, Farhan, kakak Silvi, datang menghampiri. Ia sudah mendapat info tentang kejadian semalam. Pak Jaya (Ketua RT) kebetulan sahabatnya dan sudah menelepon semalam. Karena masih di luar kota, Farhan baru tiba subuh tadi. Ia sengaja belum cerita ke Ibu karena khawatir Ibunya sedih.

​Farhan menatap adiknya lama. "Aku udah tahu semua, Sil," katanya pelan, tapi tegas. "Aku juga baru dari kantor polisi. Teddy sama Wina masih diperiksa."

​Silvi mendongak, matanya sembab. "Dia masih ditahan, Kak?"

​Farhan mengangguk. "Iya, tapi... dari wajahnya, aku tahu dia nyesel. Dia terus bilang mau ketemu kamu, minta maaf. Tapi polisi belum izinin."

​Silvi terdiam. Jantungnya berdetak pelan namun menyakitkan. Ia ingin berkata tidak peduli, tapi kenyataan tak semudah itu. Di balik semua pengkhianatan, masih ada bagian hatinya yang belum sepenuhnya mampu membenci.

​"Ibu tenang aja dulu, ya," kata Farhan menatap Ibunya, lalu kembali menatap Silvi. "Kamu harus kuat, Sil. Jangan gampang luluh. Orang kayak Teddy tuh nyeselnya cuma setelah kehilangan."

​Silvi mengangguk lemah. "Aku tahu, Kak. Tapi aku juga nggak bisa pura-pura nggak kenal dia. Dia ayah Arkan..." suaranya nyaris tak terdengar.

​Akhirnya Silvi menceritakan semua kejadian semalam kepada ibunya. "Silvi, kamu nggak sendirian, Nak. Ibu akan selalu dampingin kamu. Hadapi semua cobaan ini dengan sabar. Ibu percaya kamu anak Ibu yang tegar." Silvi kembali memeluk Ibunya, terasa hangat dan menenangkan, memberi kekuatan pada batinnya yang rapuh.

​Siang harinya, polisi memanggil Silvi untuk dimintai keterangan tambahan. Ia datang ditemani Farhan. Ruangan itu dingin, aroma apek dan kertas menambah tekanan.

​Di seberang meja, Teddy duduk menunduk, tangan masih diborgol. Rambutnya acak-acakan, wajahnya pucat. Saat Silvi masuk, laki-laki itu langsung menegakkan kepala.

​“Silvi…” suaranya serak.

​Silvi menatapnya datar. "Nggak usah panggil aku begitu. Jijik."

​“Aku minta maaf…” Teddy menunduk dalam, air matanya menetes ke lantai. “Aku bodoh. Aku nggak tahu kenapa bisa sejauh itu. Aku cuma… aku kangen rumah kita. Aku kangen kamu, Sil.”

​Kalimat itu menusuk lebih dalam dari pisau.

​Silvi memejamkan mata sebentar, menahan air mata. "Kalau kangen, kenapa kamu hancurin sendiri, Ted?" suaranya bergetar tapi tegas. "Aku udah nggak punya tenaga lagi buat benerin sesuatu yang kamu remukkin."

​Petugas polisi yang duduk di sisi mereka mencoba menengahi. “Ibu Silvi, Bapak Teddy sudah mengakui semua perbuatannya. Kalau Ibu mau, kasus ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan.”

​Silvi menoleh perlahan ke arah polisi, lalu ke Teddy. "Nggak, Pak. Saya mau proses ini berjalan sebagaimana mestinya. Saya udah terlalu sering diam."

​Teddy menatapnya hancur. “Sil… aku mohon, jangan begini. Aku janji akan berubah. Aku akan pergi dari Wina, aku cuma mau keluarga kita kembali.”

​Silvi menggeleng pelan. "Kamu baru bilang 'mau berubah' setelah semuanya terlambat. Aku capek, Ted. Kali ini biarin aku nyelametin diri aku sendiri."

​Teddy memukul meja, menangis keras. “Aku masih cinta kamu, Silvi!”

​Silvi berdiri, menatapnya dalam. "Cinta nggak seharusnya bikin seseorang sehancur ini, Ted."

​Lalu ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

​Di luar kantor polisi, langit sore mulai memerah. Angin berhembus pelan, tapi hati Silvi tetap berat. Ia berdiri lama di depan tangga, menatap langit yang perlahan berubah warna.

​Farhan menepuk pundaknya lembut. "Udah, ayo pulang. Jangan biarin dia lihat kamu lemah."

​Silvi mengangguk pelan, tapi suaranya parau. "Kak... kenapa rasanya aku yang jadi orang jahat, ya?"

​Farhan menatap adiknya lama. "Karena kamu masih cinta, Sil," jawabnya singkat. "Tapi cinta itu nggak cukup buat bertahan di atas luka kayak gini."

​Mereka berjalan ke mobil dengan langkah pelan. Dari kejauhan, Teddy masih berdiri di balik kaca kantor polisi, memperhatikan kepergian Silvi. Matanya memerah, dan untuk pertama kalinya, ia menyadari arti kehilangan yang sebenarnya. Ia ingin berlari mengejarnya, tapi borgol di tangannya membuatnya hanya bisa menatap dari jauh.

​Sementara itu, Silvi menggenggam ujung syalnya erat-erat, menahan dingin yang menusuk dada. Dalam hati kecilnya, ada suara lirih yang berkata: “Mungkin aku masih mencintaimu, tapi cinta itu sudah nggak sama.”

​Di dalam mobil, suasana hening. Silvi memandangi jalanan yang basah oleh gerimis. Lampu-lampu kota berpendar samar di kaca mobil, membuat bayangan wajahnya tampak sendu.

​Ia teringat masa-masa awal pernikahannya—saat Teddy begitu sabar, rajin menjemputnya sepulang kerja, bahkan membuatkan teh setiap malam sebelum tidur. Semua itu terasa seperti mimpi yang telah lama pudar.

​“Aku nggak tahu gimana caranya mulai dari nol lagi, Kak…” bisik Silvi lirih.

​Farhan tersenyum kecil. "Mulai aja dari bangun pagi, mandi, dan senyum. Pelan-pelan. Kamu pasti bisa, Sil."

​Ucapan sederhana itu membuat Silvi menatap jendela, membiarkan air mata terakhir jatuh tanpa suara.

​Saat malam di rumah ibunya, Silvi menatap Arkan yang sudah tertidur pulas di pangkuannya. Ia mengusap rambut anaknya dengan lembut. "Kamu harus jadi anak kuat, Nak," bisiknya pelan. "Mama janji, nggak akan nangis lagi di depan kamu."

​Di luar, hujan turun makin deras. Tapi kali ini, Silvi tidak lagi menangis. Ia hanya diam, menatap jendela, dan dalam diamnya, ada keteguhan baru yang mulai tumbuh.

​Pelan-pelan ia berdiri, berjalan menuju meja kecil di sudut kamar. Di sana, ponselnya bergetar ada pesan masuk dari nomor tak dikenal.

​Tangan Silvi sempat ragu sebelum akhirnya membuka pesan itu.

​Satu kalimat pendek muncul di layar:

​“Silvi… maafkan aku. Aku akan melakukan apa pun untuk menebus semuanya.”

​Nama pengirimnya membuat jantung Silvi berhenti berdetak sejenak.

​Teddy.

​Silvi menatap layar itu lama. Tapi sebelum ia sempat membalas, pesan lain masuk dari nomor yang berbeda.

​"Bu Silvi, besok pagi mohon datang ke kantor polisi. Ada perkembangan baru terkait kasus semalam.”

​Hujan di luar makin deras, menimpa genting rumah dengan suara yang berisik.

​Silvi menggenggam ponselnya erat. Ia menatap wajah Arkan yang tertidur, lalu menatap jendela gelap di depannya.

​Entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak kejadian semalam… hatinya berdebar tak karuan.

​Sebuah firasat buruk berbisik di telinganya bahwa besok, segalanya tidak akan sama lagi.
Baca cerita selengkapnya di Kbm App
Judul buku Karma Suami Selingkuh




Bab 5 Melepas  Luka yang Tertinggal Silvi akhirnya mengambil keputusan yang paling berat mencabut gugatan pidana terhada...
29/12/2025

Bab 5 Melepas Luka yang Tertinggal

Silvi akhirnya mengambil keputusan yang paling berat mencabut gugatan pidana terhadap Teddy dan Wina. Keputusan ini terasa dingin, murni hasil pertimbangan logis, bukan lagi emosi. Ini bukan tentang memaafkan, melainkan tentang menyelamatkan dirinya sendiri dari drama berkepanjangan dan melindungi Arkan dari label 'anak narapidana'.

​Pagi itu, ia berangkat bersama Farhan menuju kantor polisi. Tangannya dingin, jantung berdegup tak beraturan, tapi langkahnya terasa mantap. "Aku harus cepat selesai, Kak. Aku nggak mau berlama-lama lagi di sana," bisiknya pada Farhan saat mereka masuk ke gerbang kantor. Semua proses berjalan lebih cepat dari yang ia bayangkan. Berkas gugatan dicabut, ditandatangani, dan disahkan. Begitu tanda tangan terakhir selesai, Silvi menghela nafas panjang, seolah melepas beban berton-ton yang selama ini menghimpit dadanya. Rasa lega itu terasa hampa, tetapi nyata.

​Dari kantor polisi, Silvi dan Farhan langsung menuju rumah sakit untuk menemui Teddy. Ini adalah perpisahan resmi mereka. Saat Silvi masuk ke kamar rawat, Teddy tampak lebih lemah dari terakhir kali ia lihat, terbaring di ranjang dengan infus menancap di lengan. Namun matanya langsung berbinar ketika Silvi mendekat. Ia mencoba tersenyum, senyum yang gagal.

​“Aku sudah mencabut gugatannya,” ucap Silvi pelan. Ia memilih kata-kata yang datar, tanpa emosi, memastikan Teddy tahu bahwa keputusan ini adalah tindakan closure, bukan rekonsiliasi.

​Teddy menatapnya lama. Ada harapan, ada kebingungan, dan ada rasa bersalah di matanya. Ia lalu bertanya dengan suara serak, “Apa… kamu masih belum bisa maafin aku, Sil?”

​Silvi menunduk. Bibirnya bergetar, tapi ia mencoba tegar. “Jangan tanya hal yang nggak bisa aku jawab, Ted. Jawabannya nggak akan enak kamu dengar. Yang penting kamu fokus sembuh dulu. Jangan sampai Arkan kehilangan kamu selamanya.” Ia sengaja membawa nama Arkan agar Teddy mengerti batasan dari perhatiannya.

​Tak ada lagi yang bisa mereka bicarakan. Suasana hening memenuhi ruangan, dipenuhi ketidaknyamanan dan kenangan pahit. Silvi hanya ingin menyelesaikan apa yang harus ia selesaikan dan pergi.

​Bu Retno yang berdiri di sudut ruangan, di balik punggung Teddy, tampak terkejut, tapi matanya menunjukkan kelegaan yang amat sangat. Ia hanya mengangguk tanpa suara ketika Silvi menatapnya. Wanita itu kemudian berkata bahwa ia berencana membawa Teddy ke Jogja setelah ini, agar bisa dirawat lebih intensif, jauh dari hiruk pikuk Jakarta dan masalah ini.

​Silvi mengangguk, lalu berpamitan. “Semoga cepat sembuh, Ted,” katanya singkat, suaranya nyaris tak bergetar. Ia menahan diri untuk tidak menoleh saat melangkah keluar.

​Farhan menyusul dari belakang, dan mereka pun meninggalkan rumah sakit meninggalkan Teddy dan seluruh babak pengkhianatan di belakang jeruji dan tirai rumah sakit.

​Di perjalanan pulang, Silvi merasakan dadanya sedikit lebih ringan. Beban hukum telah terangkat, dan Teddy sudah diserahkan pada keluarganya. Namun ia tahu satu hal: ini baru awal dari proses melepaskan masa lalunya secara emosional.

​Perjalanan pulang dari rumah sakit berlangsung dalam diam yang panjang. Farhan beberapa kali melirik adiknya lewat kaca spion, tapi ia tahu tidak ada kata-kata yang cukup untuk meredakan badai di dada Silvi. Hanya suara mesin mobil yang mengisi kekosongan, sementara pikiran Silvi melayang-layang pada pertemuan barusan.

​Ucapan Teddy, wajahnya yang pucat, dan tatapan Bu Retno yang lega… semua itu masih menempel dalam benaknya. Tetapi justru karena itulah Silvi merasa keputusan mencabut gugatan adalah langkah terakhir yang harus ia ambil sebelum benar-benar menutup bab lama hidupnya. Dia sudah selesai. Titik. Sekarang waktunya membersihkan jejak.

​Sesampainya di rumah, Silvi berdiri cukup lama di depan pintu. Nafasnya berat. Rumah itu terasa seperti lorong waktu yang siap menelannya kembali ke luka-luka yang sudah ia susun bertahun-tahun. Ia harus memotong semua tali yang mengikatnya pada memori Teddy.

​“Masuk, Sil. Jangan diem aja di depan pintu. Nanti dingin,” kata Farhan lembut, tahu adiknya sedang mengumpulkan keberanian.

​Silvi mengangguk pelan, mendorong pintu. Aroma familiarnya menyambut—aroma rumah yang pernah ia bangun bersama seseorang yang kini hanya tinggal sejarah pahit. Farhan menutup pintu dan membiarkan Silvi berjalan lebih dulu ke ruang tengah.

​Begitu langkahnya berhenti di dekat rak kecil ruang tamu, matanya langsung tertumbuk pada foto Teddy yang masih terpajang. Foto itu seolah menatapnya, mengingatkannya pada masa ketika mereka masih percaya bahwa cinta saja sudah cukup untuk menyelamatkan segalanya.

​Silvi menghela napas panjang, lalu mengambil foto itu dengan tangan bergetar. “Kenapa aku masih simpen ginian sih…” gumamnya lirih, senyum sinis muncul sekilas di wajahnya.

​Farhan berdiri di belakangnya. “Kalau kamu mau, Mas bantu buangin semuanya. Kita beresin sekarang, ya?”

​Silvi menggeleng. “Enggak, Mas. Ini harus aku yang selesaikan. Biar aku tahu rasanya bener-bener melepas, tanpa bantuan orang lain. Ini terapi buat aku.”

​Ia pun mulai berjalan ke kamar. Setiap langkah seperti membawa berat masa lalu di pundaknya. Kamar itu masih berantakan sejak terakhir kali ia bongkar pakaian-pakaian Teddy yang berserakan setelah pertengkaran terakhir mereka. Di pojok ruangan, ada kardus kecil berisi barang-barang yang dulu belum sempat ia sentuh.

​Silvi jongkok di depan kardus itu. Tangannya membuka satu per satu isinya.

​Ada kaos Teddy yang pernah ia belikan saat ulang tahun, yang baunya samar-samar masih tercium.

​Ada parfum yang baunya kini membuat dadanya sesak dan mual karena mengingatkan pada kebohongan.

​Ada jam tangan Teddy yang dulu sempat ia minta kembali setelah perselingkuhan pertama ketahuan, tapi Teddy memohon sambil menangis agar ia mau percaya sekali lagi.

​Semua itu kini hanya benda mati bukti kebodohannya mempertahankan seseorang yang bahkan tidak pernah mempertahankan pernikahan mereka.

​Silvi masukkan semuanya ke dalam kantong sampah hitam besar. Setiap kali barang itu masuk kantong, air matanya ikut jatuh perlahan, tapi ia tidak lagi terisak. Tidak ada keributan emosional yang meledak-ledak. Hanya… perpisahan yang dingin dan definitif.

​Lalu ia menemukan sesuatu yang membuatnya berhenti bergerak.

​Sebuah selendang kecil berwarna merah muda selendang yang dulu ia pinjamkan pada Wina ketika mereka masih berteman baik, sebelum drama ini. Selendang yang kemudian ia temukan di motor Teddy, lengkap dengan bukti bahwa dua orang yang ia percaya justru menusuknya dari arah paling dekat. Benda kecil itu terasa seperti duri.

​Jari Silvi mengusap permukaan selendang itu perlahan. Ada luka lama yang terasa seperti menganga kembali, tapi kali ini ia sanggup berdiri tegar.

​“Ini… sisa-sisa dari pengkhianatan kalian berdua,” ucapnya pelan, suaranya penuh kemenangan getir.

​Ia memasukkan selendang itu ke kantong sampah yang sama.

​Selesai membereskan barang Teddy di kamar, Silvi melanjutkan ke lemari dapur. Di sana ia menemukan gelas mug hitam yang dulu selalu dipakai Teddy untuk kopi pagi. Mug dengan retakan kecil di pinggirnya retakan yang ia buat saat pertama kali tahu Teddy selingkuh, saat ia gagal mengendalikan emosinya.

​Silvi memegang gelas itu beberapa detik, mengenang kemarahan lamanya, lalu melemparkannya ke lantai.

​PRANG!

​Gelas itu pecah berkeping-keping, suara retaknya memantul ke seluruh ruangan, terasa seperti memecahkan trauma lama.

​Farhan yang mendengar suara itu langsung masuk ke dapur. “Kamu nggak apa-apa, Sil? Jangan lukain diri kamu!” tanyanya panik.

​Silvi mengangguk, walau air matanya jatuh deras. “Aku cuma… melepas semuanya, Kak. Dengan cara yang paling berisik. Ini pelepasan yang aku butuhkan.”

​Farhan menghampiri dan memeluk Silvi. “Kamu perempuan paling kuat yang Mas kenal. It’s okay to break things sometimes.”

​Pelukan itu membuat Silvi merasa sedikit lebih hangat. Setelah menenangkan diri, ia melanjutkan membersihkan sudut-sudut rumah yang selama ini ia hindari. Ia menemukan tiket bioskop lama, gantungan kunci hadiah dari Wina, dan foto bertiga saat masih teman dekat. Semua itu kini masuk kantong sampah tanpa ragu.

​Semakin lama ia menyapu barang-barang itu ke dalam kantong, semakin terasa ruang di dadanya mulai lapang. Luka itu mungkin tidak hilang, tapi kini tidak lagi membelenggu.

​Setelah semua selesai, Silvi menyeret kantong sampah ke luar. Farhan mengikuti sambil membawa satu lagi kantong besar. Mereka membuang semuanya ke tempat pembuangan besar di belakang rumah.

​Saat kantong itu jatuh ke dasar bak sampah, Silvi menatapnya lama.

​Seperti menatap jasad dari hubungan yang sudah lama mati, tapi baru hari ini benar-benar dikuburkan.

​Saat kembali masuk rumah, Silvi duduk di sofa. Rumah itu terasa berbeda lebih sunyi, namun juga lebih tenang. Tidak ada lagi jejak Teddy. Tidak ada lagi bayangan Wina.

​Hanya dirinya.

​Dirinya yang terluka, tapi perlahan sembuh.

​Dirinya yang jatuh, tapi kini mulai bangkit.

​Dirinya yang akhirnya menghormati dirinya sendiri.

​Farhan duduk di sampingnya. “Sil… mulai hari ini, kamu udah nggak punya beban apa-apa lagi. Kamu sudah melakukan bagian kamu. You deserve happiness, and a fresh start.”

​Silvi tersenyum kecil, walau matanya masih memerah.

​“Iya, Mas. Hari ini… aku bener-bener selesai. Dan ini terasa ringan.”

​Ia memandang sekeliling rumah rumah yang kini siap menampung harapan baru yang akan datang, harapan yang ia ciptakan sendiri.

​Malam itu, untuk pertama kalinya sejak sekian lama, Silvi memejamkan mata tanpa merasa dibayangi masa lalu.

​Hari itu benar-benar menjadi awal baginya untuk menata ulang hidupnya.
Baca cerita selengkapnya di Kbm App ya teman-teman🙏





Address

Jalan Gandaria 1 Rt05/05 No 18 Kel Ratu Jaya/kec Cipayung
Depok
16439

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Listia Libra Wedding posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category