17/04/2017
BULAN, BINTANG dan MATAHARI
Ada sebuah kajian yang sangat menarik yang saya hadiri beberapa tahun yang lalu...
Pembicara yang juga kebetulan Doktor dan Ustadz tersebut menjelaskan bagaimana struktur orang-orang dalam sebuah keluarga itu mirip seperti tatanan tata surya.
Ayah.. ia bagaikan matahari: Kuat, Selalu menyinari, tanpa lelah dan henti, dibutuhkan oleh semua, tempat bersandar dan menjadi tumpuan. Kekuatannya dan kegagahannya, menyilaukan bagi yang berani menatapnya langsung.
Ibu; adalah bulan. Yang datang dengan segenap kelembutan. Yang 'wajahnya' teduh dipandang, memberikan kesejukan dan kedamaian yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kendati terbitnya bergantian waktu dengan matahari, ibu mendapatkan sumber sinarnya dari sana. Jikalau tidak, maka ia akan tanpa cahaya.
Maka siapakah bintang-bintang?
Ya! Mereka adalah anak anak. Yang walau kecil tetap menyala, berkerlap-kerlip dengan ceria. Senantiasa menghiasi langit malam yang gelap dengan segenap cahayanya yang nun jauh. Mereka banyak, bertaburan, berserakan. Memberi suatu nuansa keindahan dan kegembiraan tersendiri dalam menatapnya. Namun ada pesan tersirat disini, bilakan bintang mulai muncul dan tampak? Ya! Dimalam hari! Bersama Bulan... Pelindungnya yang sejati!!! Adapun jika hari berganti siang, bintang tidak hilang, tetap ada disana, hanya saja, cahayanya tak terlihat, tertutupi oleh gagahnya cahaya matahari.
Matahari bukannya tak sayang pada bintang, sehingga bintang tak nampak ketika ia hadir. Hanya saja, bentuk sayangnya adalah limpahan cahaya, dan perlindungan yang terkadang tidak nampak oleh mata.
Masha Allah! Alangkah indahnya perumpamaan itu! Ternyata, alam juga bisa menjadi 'hadiah' perumpamaan yang menggambarkan bagaimana sebetulnya fitrah kita sebagai unit terkecil kumpulan manusia di bumi Allah ini, beserta fungsi-fungsinya.
Andai saja kita mau berfikir, mengamati, dan mengambil pelajaran dari ciptaan ciptaan Allah yang ada di sekeliling kita ini. Mungkin, dapat mengurangi berbagai pertanyaan yang hakikatnya sudah dijawab oleh bumi.
Bukankah perintah berfikir dituliskan lebih dari 300x dalam Al-Qur'an nan mulia ini? Juga level -level berfikir yang ada: afalâ ta’qilun”, “afalâ tatafakkarun”, “afalâ yatadabbaruna?
Pernahkah kita menelaahnya lebih lanjut?
Wallahu a'lam bis shawab
Wina Risman
15 April 2016