14/01/2018
Cerita di Balik Layar
Setelah Anies menang dan Ahok jatuh, ada pihak yang mengatasnamakan alumni 212 untuk bargain di hadapan PKS, Gerindra, PAN.
Padahal, massa Islam yang "polos dan ikhlas" sudah keluar dari barisan 212 ini setelah misi mereka selesai menjatuhkan sang "pen*sta".
Lantas siapa alumni 212 itu ?
Mereka adalah penumpang gelap pada gerakan moral Islam, yaitu HTI, FUI, FPI, ISIS.
Agenda mereka jelas yaitu untuk mengganti idiologi negara menjadi Khilafah.
Menjadikan siapa saja yang berbeda paham sebagai musuh mereka.
Nama saya sendiripun sempat beredar di Medsos, termasuk sebagai musuh mereka yang akan dihabisi kalau mereka menang dengan agenda mereka.
Apakah PKS, GERINDRA, dan PAN merasa 212 penting dan punya saham menjadikan Anies gubernur ? Tentu saja TIDAK.
Kemudian bagaimana dengan alumni 212 ?
Mereka kembali menggunakan Anies secara tidak langsung untuk tujuan agendanya. Bagi Anies ini tentu dimanfaatkan, apalagi gratis menuju RI-1.
Tapi apa mau dikata, bahwa tidak ada makan siang gratis.
Beberapa agenda Anies yang populis mengalir sesuai agenda partai. Bukan kepada 212.
Di tengah kebimbangan, 212 memang jago soal bisnis. Tidak mati akal untuk create business di tengah situasi yang tidak mendukung agenda mereka.
Caranya ???
212 menjual ide kepada oportunis di seluruh Indonesia, bahwa mereka adalah "pintu toll" untuk menjadi kepala Daerah. 212 menggambarkan bahwa rekomendasi mereka sakti dan pasti diterima oleh partai yang tidak mendukung UU Ormas.
212 juga punya slogan marketing yang hebat :
“Jakarta kita rebut, berikutnya daerah lain kita rebut”.
Bagi oportunis sejati ini seakan cahaya terang untuk jadi kepala daerah. Tapi tidak semua oportunis bisa deal dengan 212. Karena mana ada deal tanpa uang. Kecuali yang benar-benar punya uang banyak.
Maka, kita tak perlu kaget bila ada gaduh di Jawa Timur.
Itu karena rekomendasi 212 ternyata tidak sakti-sakti amat, alias mereka memang hanya pepesan kosong secara politik.
Mengapa ?
Mana ada partai mau terima calon hanya modal stempel preman demo ?
Memang mereka siapa ?
Tidak ada duit, ya kelaut aja.
Kalau 212 marah, ya dicuekin aja. Tidak ada untungnya mengikuti rekomendasi 212 itu.
Apalagi para partai itu sadar bahwa sekali mereka gunakan gerakan alumni 212 dalam aksi kampanye, otomatis mereka melanggar hukum.
Ada UU Ormas dan Bawaslu yang siap membuat partai jadi pecundang.
Dan ini sengaja ditunggu oleh PDIP agar bisa menggilas partai-partai tersebut jatuh karena pelanggaran UU.
Jadi, alumni 212 itu kartu mati bagi partai.
Lantas bagaimana nasib mereka selanjutnya ?
Ya dibiarkan saja semau mereka.
Sekali melanggar hukum ya masuk bui.
Tidak akan ada lagi yang membela.
Yang pasti, gerakan semacam 212 untuk tujuan politik seperti saat menumbangkan Ahok sudah closed file. Oligarki business sudah menempatkan 212 sebagai bad news yang memang hanya omong kosong.
Saran saya, mereka alumni 212 lebih baik mengalihkan gerakan mereka ke Palestina untuk kemerdekaan Palestina atau ke Arab Saudi untuk bela ulama yang ditangkapi oleh raja, sekalian tempatkan orang 212 sebagai khalifah disana,
Jangan di Indonesia !!!
~ dari DDB untuk Gerakan Dukung Orang Baik ~